Rogerkomp melayani service laptop dan komputer di jayapura hub 082198428797

Kamis, 29 Januari 2009

Strategi Investasi

Dalam mengembangkan sebuah strategi investasi, hal terpenting adalah penetapan tujuan spesifik. Karena dengan tujuan yang spesifik Anda akan memperoleh informasi yang tepat dari sisi jangka waktu dan nilainya di masa datang. Kemudian, dari sisi diri kita, kita juga harus menelaah toleransi risiko kita terhadap investasi. Jangan sampai susah tidur karena memilih investasi dengan risiko yang terlalu tinggi.

Dan setelah kedua hal utama diatas, Anda lakukan, selanjutnya Anda harus mengembangkan strategi alternatif untuk berbagai pilihan investasi. Strategi perlu didukung dengan perhitungan yang akurat. Dari perhitungan ini, Anda akan memperoleh nilai dana yang harus Anda investasikan untuk mencapai tujuan keuangan yang telah ditetapkan berawal dari keadaan keuangan Anda saat ini.

Dalam proses pengembangan strategi investasi, terdapat beberapa langkah yang bisa kita lakukan guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pertama, memahami dan mencermati biaya transaksi. Kedua, mengenal plus dan minus alternatif strategi. Ketiga, melakukan penempatan yang bijak dalam pilihan aset yang ada (alokasi aset) berdasarkan tujuan yang terukur.

Mencermati dampak biaya transaksi

Ada dua faktor besar yang dapat mengurangi imbal hasil investasi yaitu biaya transaksi dan pajak. Institusi keuangan seperti perusahaan sekuritas atau bank selalu mengenakan biaya terhadap setiap transaksi yang kita lakukan. Misalnya, setiap bulan kita akan terbebani oleh biaya administrasi bila menempatkan uang di bank. Biaya transaksi juga dikenakan bila kita ingin membayar berbagai tagihan melalui bank. Berinvestasi di reksadana pun akan ada biayanya, misalnya berbagai beban biaya untuk setiap pembelian unit penyertaan reksadana. Semua ini harus dipahami dan dicermati agar kita dapat mengambil keputusan yang tepat berkenaan dengan investasi.

Pajak adalah pemotongan lain dalam investasi. Misalnya, bunga deposito di bank akan terpotong dengan pajak sebesar 20 persen. Sebagai contoh, bila tingkat suku bunga deposito saat ini adalah 6 persen maka sebenarnya hasil bersih (setelah pajak) yang didapat kurang dari itu, yaitu hanya 4,8 persen (= 0.8 x 6 persen). Bila kita bertransaksi saham (jual dan beli), maka kita akan dibebani oleh pajak dan biaya transaksi. Dalam transaksi saham, pajak yang dibebankan adalah final berdasarkan persentase nilai transaksi yang dilakukan. Artinya, pembayaran pajak tidak tergantung pada untung atau rugi transaksi. Jadi, meskipun kita mengalami kerugian (selisih jual dan beli negatif) dalam saham, kita tetap akan terbebani oleh pajak.

Ringkasnya, sebelum berinvestasi pada satu instrumen investasi, kita perlu mengenal dan memahami biaya transaksi termasuk pajak yang perlu kita bayar. Perhitungan imbal hasil untuk mencapai tujuan yang diinginkan adalah berdasarkan imbal hasil bersih setelah biaya dan pajak.

Mengenal plus minus alternatif strategi

Dengan tersedianya berbagai alternatif strategi investasi, sebaiknya kita secara cermat mempertimbangkan keuntungan dan kerugiannya sebelum keputusan diambil. Ada dua isu yang sebaiknya kita perhatikan dalam memilih atau melaksanakan strategi investasi. Kedua isu tersebut akan diuraikan berikut ini.

Time versus money

Apakah kita akan membayar seseorang untuk dapat memonitor perkembangan investasi kita atau kita akan melakukannya sendiri? Di sini trade-off-nya adalah waktu dan uang. Dengan kesibukan Anda setiap hari, seringkali urusan perencanaan keuangan keluarga menjadi terabaikan. Baik dalam awal proses perencanaan maupun saat pelaksanaan, keduanya membutuhkan perhatian yang cukup agar kita dapat mencapai apa yang menjadi tujuan keluarga. Bila waktu yang kita miliki terbatas maka solusi alternatifnya adalah melimpahkan penanganan tugas tersebut kepada orang yang profesional. Pilihan ini harus dipertimbangkan dengan matang agar tujuan keuangan tidak menjadi terbengkalai akibat masalah kurang waktu.

Recordkeeping

Apakah kita menginginkan semua data investasi kita dibundel dalam satu laporan atau merasa cukup nyaman dengan banyak laporan berbeda untuk tiap jenis investasi yang kita lakukan? Semua ini terkait dengan pilihan investasi. Bila kita melaksanakan transaksi investasi dengan banyak perusahaan, maka setiap periode (misalnya tiap bulan atau enam bulan) kita akan selalu disibukkan dengan berbagai laporan perkembangan investasi kita. Pemantauan banyak laporan yang terpisah ini bisa jadi cukup menyita waktu dan merepotkan. Kerepotan ini dapat dikurangi dengan menempatkan dana hanya pada sebuah perusahaan pengelola investasi. Alokasi dana pada instrumen yang berbeda dapat dilakukan melalui satu perusahaan pengelola investasi bila perusahaan tersebut menyediakan beragam pilihan investasi. Masalahnya, tidak semua investasi yang ditawarkan oleh satu perusahaan adalah yang terbaik. Biasanya, sebuah perusahaan hanya memiliki satu keunggulan dibandingkan dengan perusahaan lain. Jadi, faktor ini perlu diperhatikan dalam menentukan pilihan investasi.

Buy and hold versus market timing

Secara umum kita mengenal dua cara berinvestasi, yaitu buy-and-hold dan market timing. Cara pertama adalah dengan membeli beberapa alternatif sarana investasi dan tetap memegangnya untuk jangka waktu yang lama. Harapannya adalah agar keajaiban bunga majemuk (the magic of compound interest), seperti pernah diulas dalam pembahasan yang lalu, terealisasi sehingga memberikan peluang untuk memberikan keuntungan besar dalam jangka panjang. Jadi perspektif konsistensi dan jangka panjang menjadi kuncinya. Pada kubu lain, para penganut market timing (MT) tidak setuju dengan argumentasi buy-and-hold (BAH). Menurut kubu MT, investor bisa dirugikan bila tidak memanfaatkan gejolak harga (volatility). Pendukung MT menganjurkan untuk mengambil keuntungan dari perubahan harga di pasar. Misalnya, bila harga sedang menurun maka Anda membelinya dan ketika harga naik Anda menjualnya. Pendeknya buy low sell high, atau beli murah jual mahal. Dengan begitu investor akan mendapatkan keuntungan maksimal dari investasi.

Strategi market timing yang akurat memang menjanjikan keuntungan yang luar biasa. Profesor Robert Merton, pemenang Hadiah Nobel Ekonomi 1997, meneliti tiga strategi investasi menggunakan data bursa saham New York pada periode 1 Januari 1927 - 31 Desember 1978. Ketiga strategi ini dimulai dengan modal awal US$ 1000. Strategi pertama, sebut saja strategi deposito, adalah investasi dalam surat berharga jangka pendek 1 bulan (misalnya commercial paper atau T-Bill) kemudian pokok dan bunganya di-rollover tiap awal bulan. Strategi kedua, disebut strategi beli dan tahan (buy-and-hold) adalah investasi di bursa saham (diwakili indeks bursa saham New York) terus menerus (capital gain dan dividen yang diperoleh diinvestasikan lagi setiap awal bulannya) selama 52 tahun tersebut.

Strategi ketiga adalah strategi market timing sempurna. Artinya, setiap awal bulan, investor berkonsultasi kepada sebuah ‘komputer peramal yang tak pernah salah’. Kalau menurut ramalan komputer ini indeks saham akan naik selama 30 hari mendatang, maka uang yang ada akan diinvestasikan dalam pasar saham. Sebaliknya, bila si komputer paranormal meramal indeks saham akan turun, maka uang yang ada dialihkan ke investasi surat berharga jangka pendek selama 30 hari mendatang. Begitu seterusnya selama 52 tahun.

Untuk strategi pertama, uang si investor ternyata hanya berkembang menjadi US$ 3600. Untuk strategi kedua, uang si investor berkembang lebih dari 60 kali lipat menjadi US$ 67.500. Yang menarik adalah hasil strategi ketiga. Dalam sebuah seminar yang dihadiri para profesor keuangan, Robert Merton memberi kuis singkat untuk mensurvei perkiraan para profesor ini tentang hasil strategi ketiga.

Nah, kalau Anda diminta menebak, berapa perkiraan Anda tentang hasil strategi ketiga ini? Kemungkinan besar, perkiraan Anda tak akan jauh berbeda dengan perkiraan para profesor keuangan ini. Hasilnya ternyata sama saja. Perkiraan para profesor keuangan dalam seminar Profesor Merton itu ternyata tidak akurat. Umumnya perkiraan berkisar antara ratusan ribu dolar sampai puluhan juta dolar. Kami yakin tebakan Anda juga di sekitar angka itu juga. Jawaban yang tepat adalah, jangan kaget, lima koma tiga enam miliar dollar AS (jawaban ini sengaja ditulis dengan huruf agar tidak mudah diintip sebelum menebak). Luar biasa, bermula dari seribu dolar, dalam 52 tahun Anda bisa mendapatkan uang beberapa kali lipat kucuran dana IMF per periodenya yang sangat dibutuhkan pemerintah Indonesia semasa krisis.

Jadi, logika buy low sell high memang masuk akal. Investor pasti akan untung dengan membeli di harga terendah dan menjualnya di harga tertinggi. Masalahnya, apakah waktu beli yang ditetapkan akan selalu tepat saat harga berada pada level terendah dan waktu jual saat harga berada pada level tertinggi? Kemungkinan memang ada, tapi peluangnya sangat kecil. Tidak akan ada orang yang pernah selalu tepat dalam memprediksi atau memperkirakan perubahan harga di pasar. Dalam prakteknya, banyak sekali ketidak-tepatan prediksi sehingga akhirnya berdampak buruk terhadap investasi yang Anda tempatkan.

Dalam menentukan waktu beli tidak ada seorang manajer investasi pun yang berani mengatakan dengan pasti bahwa harga dari suatu saham di pasar modal adalah harga yang terendah, Mereka melakukan semua perkiraan ini juga dengan perhitungan yang mungkin sekali terjadi kekeliruan atau ketidaktepatan. Meski harga telah rendah, tidak ada jaminan bahwa harga tidak akan turun lebih jauh lagi. Sebaliknya, meski harga telah tinggi, tidak ada kepastian bahwa harga tidak akan naik lebih tinggi lagi. Bila terlalu banyak kesalahan prediksi, bukan keuntungan yang didapat malah kerugian yang menimpa investor.

Untuk investasi guna mencapai tujuan keuangan keluarga jangka panjang misalnya 10, 20 atau bahkan 40 tahun ke depan, kami menganjurkan metode yang sudah juga kami ulas yaitu dollar/ rupiah cost averaging.

Alokasi aset

Sebelum kita menentukan pilihan investasi, kita sebaiknya mengetahui berbagai tujuan yang ada dan menyesuaikannya dengan jangka waktu pencapaian. Menyiapkan dana pendidikan anak juga merupakan salah satu tujuan keuangan keluarga. Tujuan ini merupakan tujuan keuangan jangka panjang. Misalkan kita ingin menyiapkan dana untuk kuliah bagi anak kita yang baru berumur 2 tahun. Kita masih memiliki minimal 16 tahun sebelum anak kita masuk kuliah. Pilihan investasi yang memberikan ekspektasi imbal hasil besar dalam jangka panjang dengan risiko terukur bisa menjadi pilihan. Reksadana campuran atau gabungan antara reksadana saham dan reksadana pendapatan tetap merupakan kandidat potensial untuk situasi ini. Dalam perencanaan dana pendidikan, kami menyarankan agar pilihan penempatan dananya tidak terlalu agresif. Kita tidak mau berspekulasi dengan risiko tinggi yang dapat berakibat di saat dana itu dibutuhkan ternyata tidak ada atau tidak mencukupi.

Dari contoh tersebut, terlihat bahwa pengalokasian dana untuk berbagai tujuan yang dimiliki harus disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuannya. Sebaiknya kita mulai melihat berbagai pilihan alternatif investasi yang ada sehingga bisa disesuaikan dengan tingkat toleransi kita terhadap risiko serta jangka waktu investasi yang dibutuhkan.

Semoga ulasan kali ini bermanfaat dan menambah wawasan kita dalam membangun strategi ivestasi yang jitu.

Selamat berinvestasi.

Diambil dari Harian Umum Sore Sinar Harapan Rubrik PERENCANAAN KEUANGAN. Rubrik ini diasuh oleh Tim Indonesia School of Life (ISOL) yakni Andrias Harefa, Roy Sembel, M. Ichsan, Heru Wibawa, dan Parpudi Lubis.

Pesan dan Kesan

Gabung Yuk...

Klik Aja

Pengikut