Rogerkomp melayani service laptop dan komputer di jayapura hub 082198428797

Jumat, 10 Oktober 2008

Rahasia Sukses Berkarier

Posting ini saya ambil dari jawaban antas pertanyaan rekan Kamistembang yang menanyakan bagaimana memersiapkan diri guna meraih sukses dalam berkarir.
Mas Junaedi dalah konco-konco Kamisetembang sabrayat,
Matur nuwun dene aku dijaluki nasehat lan andum pengalaman. Jan-jane aku durung patut mbagi ngelmu, lha wong aku yo masih sekolah, pengalamane uga nembe se-lorong, durung se-jalan. Nanging mergo ngendikane kanjeng Nabi SAW, beritakan yang engkau ketahui meski hanya sedikit, maka dengan mohon maaf kepada para senior ( termasuk Pak Bag), saya mencoba menjawab pertanyaan Mas Junaedi.
Di Indonesia, jika kita cermati, antara bidang studi yang ditekuni dengan bidang pekerjaan seringkali tidak memiliki keterkaitan. Sarjana Pertanian berprofesi sebagai wartawan, bekerja di bank, menjadi tenaga pemasaran komputer; yang lulus dokter gigi eh malah dadi artis, ora tau nandang gawe nyabut gigi dalah ngerok plak gigi. Sing sekolah teknik elektro dadi direktur keuangan, lan sapanunggalanipun.
Kaitan antara kepribadian individu dengan bidang pekerjaan yang cocok, mestinya yang fasih menjawab adalah teman-teman dari psikologi. Karena saya bukan dari disiplin psikologi, maka jawaban saya hanya common sense saja ya. Dari pengalaman, terlihat bahwa orang - orang yang easy going, mudah bergaul, lancar ngomonge, semanak, luwih cocok kanggo nyambut gawe bidang yang berhubungan dengan publik, seperti marketing, sales, PR, layanan pelanggan, dan lain sebagainya. Sedangkan orang dengan kepribadian pendiam, introvert, sulit bergaul, gugup kalau bicara di depan publik, sebaiknya mencari pekerjaan yang tidak banyak berhubungan dengan publik seperti perancang bangunan, programer komputer, pembukuan, atau di bagian produksi yang berurusan dengan mesin.
persoalannya, seringkali sebagai pencari kerja, kita tidak bisa milih-milih bidang pekerjaan, mergo saya orangnya pendiam maka saya tidak mau jadi tenaga pendukung penjualan, misalnya. Kita masih boleh milih kalau memiliki pilihan, sama dengan kalau di saku kita ada banyak uang, kita boleh pilih mau makan apa saja sesuai kekuatan uang kita. Tetapi kalau tidak ada pilihan, uang di saku hanya lima ribu, misalnya, maka apa yang dihadapan kita harus diambil, dan kepribadian kita yang harus disesuaikan dengan tuntutan pekerjaan. Kepribadian harus dapat berubah, sesuai tuntutan peran kehidupan.
pengalaman saya, sejak lulus stembase, saya tidak bercita -cita bekerja di pabrik (manufacturing), tetapi bekerja di bagian yang berhubungan dengan manusia, di bidang jasa. Nah ternyata, ketetapan hati ini sudah mengurangi separo dari populasi bidang pekerjaan yang dapat diplih, sehingga saya bisa lebih fokus lagi, mencari bidang jasa apa? karena saya lulusan EK, tentu saja jasa yang relevan adalah jasa di bidang elektronika. Nah ndilalah saya diterima bekerja di perusahaan komputer, yang waktu itu, tahun 1981, tergolong masih baru di Indonesia. Nah sampai di sini bisa kita urut: bidang Jasa, elektronika, komputer.
Dari komputer sempat nyasar selama lima tahun setengah (termasuk pendidikan) ke perusahaan minyak, dadi teknisi listrik lan instrumentasi. ketika masuk memang saya menargetkan paling lama lima tahun kerja di laut. Saya tidak mau sampai tuwo urip ning tengah laut.
Selanjutnya? kembali ke komputer yang ternyata spesialisasinya juga banyak sekali. Padahal kalau kita mau mumpuni kita mesti pilih satu atau dua keahlian. Jadi mirip dokter umum yang akan ambil pendidikan spesialis. sesudah lulus spesialis ambil lagi super-spesialis (contohnya, dokter penyakit dalam, ahli ginjal). Di komputer ini saya mengawali dari hardware, dadi teknisi, terus sinau software, sinau ilmu komputer, tau dadi programer lan system analyst, terus menekuni jaringan, mengerjakan pasang jaringan, walhasil lha kok ternyata yang penghasilannya paling besar para teman salesman komputer. ora gelem kalah, aku melu dodolan komputer. Mulai merakit, mengepak, mengirim, menginstal, semua dikerjakan sendiri. Sampai akhirnya, munggah pangkat dadi Business Manager di sebuah perusahaan komputer yang tergolong terbesar di Indonesia (Metrodata).
Dadi? piye carane menentukan target? sederhananya gunakan dua pendekatan: Anda mau jadi PNS atau swasta? Kalau jadi PNS, selesai perkara, kerja rajin tunggu naik pangkat. Kalau mau jadi swasta, Anda mau jadi loyalis, bergerak secara linier, gaya jepang, kerja seumur-umur di satu perusahaan; atau mau jadi pencari peluang, bergerak secara lateral, gaya amerika, kerja di satu perusahaan sampai merasa cukup, dan pindah ke perusahaan lain untuk mencari yang lebih baik, demikian seterusnya.
Yang perlu disadari, jika Anda memilih dadi PNS, Tentara, Polisi, maka rejeki (gaji) dan jabatan yang disandang merupakan fungsi waktu, dengan asumsi selama masa dinas tidak kesandung masalah hukum, rajin ngurus pangkat, lan disenengi atasan sarwo bawahan. Jika Anda memilih jadi pegawai perusahaan swasta dan menggunakan gaya jepang, maka nasib rejeki dan jabatan Anda mirip dengan nasib PNS, Tentara dan Polisi (ndak ada cerita korupsi di sini lho). JIka anda berminat menjadi politisi, maka masa hidup rejeki tetap Anda hanya lima tahun, sesudah itu harus berjuang lagi agar dapat dipercaya rakyat menajdi anggota dewan.
Jika Anda memilih menjadi pegawai swasta gaya amerika, kalau untung, pintar negosiasi, ketika pindah ke perusahaan baru bisa naik dua sampai tiga kali dari sebelumnya, tetapi kalau di-PHK pesangon Anda sedikit soalnya masa kerjanya juga belum panjang. Dulu waktu saya pindah dari Metrodata ke perusahaan telekomunikasi Amerika, gaji saya naik lima kali lipat, malah ketika krismon, rupiah terdepresiasi terjun bebas, gaji saya mendadak jadi besar sekali untuk ukuran waktu itu (mergo saya dibayar pakai US$), sekali gajian bisa untuk beli mobil sedan-baru satu.
Saya tidak pernah membanding-bandingkan dengan teman, oh aku nembe dadi iki, nduwe iku, sementara konco sa-angkatanku wis dadi kae, banda dunyane wis akeh. Babar blas, pikiran seperti itu ndak pernah mampir di benakku. mengapa demikian? bagi saya, orang yang selalu membanding-bandingk an nasib pangkat dan rejekinya tidak akan mendapat apa-apa selain sakit hati, orang semacam ini biasanya tidak tahu berterima kasih, selalu ngresulo, mengeluh karena kita tidak pernah dapat menyamai orang lain. jadi yang selalu saya mikir, dan akhir-akhir ini selalu muncul dalam renungan saya, adalah bagaimana saya bisa memberi manfaat (value) sebanyak-banyaknya bagi orang lain. Manfaat bagi orang lain ini dapat berupa memintarkan orang lain (dadi dosen), membagi/sharing pengetahuan dan pengalaman dengan sesama, membagi sebagian rejeki (dengan memberi pekerjaan kepada orang lain), membantu teman/sahabat yang benar-benar membutuhkan (misalnya buat acara sunatan massal anak yati m), dan lain sebagainya. Sekarang ini, saya sedang “mimpi” untuk bisa menyembuhkan orang sakit.
Dari dulu juga, sejak masih di stembase, saya ndak pernah ketakutan kalau ndak punya duit, ndilalah ono wae dalan menyang duwit, sing halal. Setelah bekerja juga begitu, dalane rejeki gampang gangsar, opo mergo ora ngoyo, opo mergo liyane aku ora ngerti. ning sing baku berapapun yang saya terima, dalam hati ngaturake matur nuwun marang Gusti Allah sumber dalane rejeki. wong urip ora tau cukup, wis nduwe mobil siji, pengin loro, wis loro jare anake telu, mula perlu nduwe mobil lima, bapak, ibu anak, siji-siji. Wis nduwe omah, jare kurang jembar, jare kurang elite, mesti pindah. Wis nduwe bojo siji, pengin loro, karepe ueeeennaaaak pisan. Begitu seterusnya. Apa salah? jawab saya: tidak, kalau mampu mendapatkannya secara halal dan sehat.
Saya juga sering kena penyakit ”ora cukup”. sebagai contoh, kebetulan saya sudah punya rumah yang layak, anak mbarep sekolah di Jogja, nomer loro sekolah di Pesantren di Solo, nomor telu, lanang sekolah kelas 3 smp, nek wis lulus pengin sekolah smu sing nganggo asrama. dadi sekarang saya tinggal berempat, dengan istri, bungsu dan pembantu. Hanya karena ruang perpustakaan saya sudah terasa sempit, karena koleksi buku terus bertambah, dan ruang menyimpan pakaian sudah terlalu penuh, maka penyakit ora cukup saya hampir kambuh. kebetulan sebelah kiri saya ada rumah kosong, langsung saya satroni si pemilik yang tinggal di bandung saya bilang, saya mau beli rumah bapak, eh beliau setuju. setelah harga dan cara pembayaran disepakati, saya minta kredit ke bank untuk kekurang pembayaran. Ndilalah bank-nya lelet, entah kenapa kalau kredit mobil seminggu kelar, kredit pemilikan rumah yang jumlahnya jauh lebih sedikit urusannya sampa i sebulan.
Berkah bank-nya lelet, saya mikar-mikir, kenapa mesti beli rumah lagi? toh bulan mulai Juni anak bungsu sudah akan tinggal di asrama, sekarangpun rumah terasa kosong, dua kamar (milik sulung dan tengah, kosong), lha kalau dua rumah seukuran dijadikan satu apa ndak tambah terasa kosong? apa ini ndak serakah? begitu pikir saya? soal buku bagaimana? lha khan banyak buku yang sudah jarang dibaca, mengapa tidak dikasihkan ke perpustakaan sekolah saja? soal baju? lha kok repot!! saudaramu di desa khan banyak, panti asuhan juga tidak sedikit!, pilih yang masih bagus, sumbangkan ke mereka. begitulah wacana dalam diri saya. akhirnya penyakit ora cukup disembuhkan sendiri, saya urung membeli rumah, sekitar tiga ratusan buku (sebagian besar tentang elektronika, listrik dan komputer, berbahasa inggris) saya sumbangkan ke perpustakaan sekolah tinggi teknik multimedia cendekia abditama di pamulang (yang kebetulan saya salah satu pengurusnya). Lemari baju di ruang p akaian, kami kurangi isinya. jas, celana, baju dan lain - lain yang kami sudah tidak pakai lagi, dikemas dan diberikan kepada berbagai pihak. Lega rasanya berkurang beban, dan senang rasanya memberi kebahagiaan kepada orang lain. HIkmahnya? ruang pakaian dan rak buku menunggu diisi lagi, artinya akan ada spending lagi!! wah tu kan, penyakit ora cukup tetap tidak bisa hilang.
jadi apa yang membatasi penyakit “ora cukup”? tahu diri dan malu kepada orang lain. yang seperti tadi, syukur saya segera segera tahu diri, bahwa nanti kalau rumahnya kebesaran (750m2), padahal penghuninya cuma tiga orang, opo ora isin karo liyan sing durung nduwe omah? kok serakah amat. opo ora isin karo liyan, lha wong klambi wis ora nate dianggo terus disimpan, padahal banyak orang lain yang membutuhkan namun tidak mampu membelinya. lah opo ora isin, tuku buku kok mung kanggo dipajang doang? padahal akeh mahasiswa sing pengin sinau ora nduwe kekuatan kanggo tuku buku.
sekolah kuwi dudu jaminan nek wis lulus mesti dadi wong sukses. mengko sik, bagi saya, sukses itu artinya apa saja yang saya inginkan dapat tercapai. Jadi dalam mengatakan saya sukses atau sebaliknya, saya tidak perlu membandingkan dengan orang lain. Acuannya diri sendiri saja. Mengapa demikian? yang susah bukan mengalahkan orang lain, namun mengalahkan diri sendiri. Mengajari orang lain, gampang, mendisiplinkan diri sendiri, nanti dulu. Nah jadi, mengapa risau kepada orang lain? risaulah kepada diri sendiri. seperti misalnya, mengapa saya tidak rajin menabung, padahal saya tahu menabung merupakan instrumen untuk memupuk kekayaan. Atau, mengapa saya tidak belajar rajin, tekun dan sungguh-sungguh, padahal kita tahu hal tersebut membantu diperolehnya pengetahuan dan nilai yang lebih baik.
Nah, kalau kepala kita disibukkan dengan pemikiran yang tidak konstruktif, cuma mikir kekurangan kita tetapi tidak mau beraksi memerbaikinya, maka kita terus jadi minderwadeg kompleks. Iki contone, tinggi badan saya dari lulus smp sampe sekarang cuma 155cm, ora tahu mundak, dulu banyak teman mengolok-olok saya dengan sebutan “cah cilik”, “si pendek”, “jamu jago”, “kate”, bahkan sekarang -pun seorang Menteri mengolok dengan meneriaki untuk “berdiri di meja” ketika saya hendak berbicara di tengah para CEO perusahaan telekomunikasi, Dirjen dan sang Menteri. tetapi apa pernah saya sakit hati, terhina, hilang percaya diri? jawabnya TIDAK PERNAH. Mengapa demikian? jawabnya, karena saya yakin, nilai manusia bukan karena ukuran fisiknya, atau lebih tepatnya, ukuran fisik bukan satu-satunya ukuran nilai dan kualitas manusia. Saya malah kasihan sama mereka yang mengolok-olok saya. Dan ketika menerima olokan seraya berdoa, semoga orang itu diampuni atas kesombongannya. walhasil, karena saya tidak pernah nanggepi apa lagi sakit hati, akhirnya mereka tahu siapa saya. Dan soal cewek yang katanya lebih senang berhubungan dengan pria jangkung nan macho? tidak dapat digeneralisir. Ibu anak-anak saya tingginya 175 cm, dulu cewek pacar saya orang inggris, lebih tinggi lagi, sebelumnya pacaran sama Indo-belanda tingginya 170cm. jadi ternyata orang pendek seperti saya, eh lah kok lakunya sama yang lebih tinggi. Tinggi-pendek, ternyata nikmat dan pas juga.

Pesan dan Kesan

Gabung Yuk...

Klik Aja

Pengikut